Kelompok
IV
·
Brojo
Hermanto
·
Tut
Dukalang
·
Rahmawati
Idrus
·
Abdul
Rahman Puhi
STRUKTUR
PENGETAHUAN MANUSIA MENURUT TARAF-TARAF SUBJEK
Pengetahuan manusia
pada umumnya berarti komunikasi dengan kenyataan bersamanya dalam hal ide dan
kesadaran. Manusia menerima pengaruh dari lingkungan baik dunia maupun
masyarakat, ia memahaminya , dan mengungkapkannya, dan sebaliknya ia memberikan
kepadanya . maka pengatahuan manusia itu bersifat dialogal.
Dalam arangka
pengetahuan yang sesuai dengan hakekatnya, dalam manusia dapat dibedakan
sekurang-kurangnya tiga rangkap pengetahuan, yang berbeda menurut kualitas
kemampuannya, tetapi yang pada hakekatnya merupakan kesatuan. Masing-masing
mempunyai tekanannya yang khas. Pengetahuan itu ialah: pengetahuan inderawi,
pengetahuan naluri, dan pengetahuan rasional, semua segi pengetahuan lain dapat
diterangkan dalam hubungan dengan ketiga rangkap itu.
1.
Pengetahuan inderawi
Pengetahuan
inderawi dimiliki manusia melalui inderawi, kemampuan itu diperoleh manusia
sebagai makhluk biotik: sebab misalnya bunga dan pohon tidak
mempunyainya.tetapi hanya karena ia juga mengandung taraf psikis, seperti pula
binatang ia juga mempunyai indera biologis itu. Berkat inderanya ia mengatasi
taraf hubungan yang semata-mata fisik-vital dan masuk kedalam medan
internasional, walaupun masih sangat sederhana. Indera menghubungkan manusia
pada hal-hal kongkrit-material dalam ketunggalannya, entah real atau semu.;
Pengetahuan
inderawai bersifat persial. Itu disebabkan adanya perbedaan antara indera yang
satu dengan yang lainnya, berhubungan dengan sifat khas fisiologis indera, dan
dengan objek yang dapat ditanyakan sesuai dengannya. Masing-masing indera
menangkap aspek yang berbeda mengenai barang atau makhluk yang menjadi objek,
yaitu bunyi, atau cerah, atau bentuk dengan keras-lunaknya, atau rasa atau bau.
Pengetahuan inderawi berbeda menurut perbedaan indera dan terbatas pada
sensibibitas organ-organ tertentu, pendengaran hanya mampupu mengungkap suara,
dan hanya dalam sebatas-sebatas frekuensi tertentu sesuai dengan kepekaan
indera pendengaran masing-masing orang. Mata peka terhadap cahaya, dan tidak
mampui menangkap bau yang tugasnya indera penciuman: dan begitu juga semua
indera lainnya, pengetahuan indera hanya terletak pada permukaan kenyataan, karena terbatas pada hal-hal
inderawi secara individual, dan lihat hanya dari segi tertentu saja. Oleh itu
secara objektif pengetahuan yang ditangkap oleh satu indera saja, tidak dapat
dipandang sebagai pengetahuan yang utuh, ibarat pengetahuan beberapa orang buta
yang berbeda pendapat tentang bentuk seekor gajah, karena mereka hanya
mengandalkan indera peraba semata-mata, namun pengetahuan inderawi menjadi
sangat penting karena bertindak selaku pintu gerbang pertama untuk menuju
pengetahuan yang lebih utuh.
2.
Pengetahuan naluri
Persepsi
dan naluri merupakan daya khas yang dimiliki oleh semua makhluk yang memiliki
psikhe, dalam rangka mempertahankan hidup dan melangsungkan kehidupannya di
alam. Naluri merupakan bagian misteri alam kehidupan, sejauh telah
memperlihatkan bayangan kesadaran yang pertama, entah secara kuat atau lemah.
Naluri
itu sangat peka pada binatang, dan justru memperlihatkan kelebihannya
dibandingkan dengan makhluk hidup lain, naluri binatang itu itu sangat didukung
oleh kemampuan fisik binatang tersebut dalam rangka kelangsungan mengadanya.
Organ tubuh seekor rusa misalnya telang menyesuaikan dia untuk hidup dipadang
rumput , dan organ seekor kera telah mencocokan dia untuk hidup diantara
pohon-pohon, meskipun gerak binatang jauh lebih tidak terikat daripada
tumbuh-tumbuhan, tetapi sesungguhnya binatang juga makhluk yang hidup dalam
simbiose kuat dalam alam. Binatang membutuhkan dan mengharapkan hal-hal sangat
tertentu dari alam, seperti lingkungan, makanan, perlindungan, kebersamaan
dengan jenisnya, dan mencari secara aktif untuk memperolehnya dan untuk
meloloskan diri daari ancaman. Kedudukannya terhadap linhggkungannya bersifat
stabil, terikat dan tidak bebas: ia tridak pernah memiliki pilihan hidup. Namun
binatang masih memiliki kesamaan terhadap tumbuh-tumbuhan, yakni apabila tempat
hidup dan fasilitas pendukungnya dihancurkan, mereka akan punah.
Kendatipun
berbeda dan lebih tinggi lagi dengan binatang, manusia secara principal
memiliki pengetahuan naluriah. Untuk mempertahankan mengadanya dan kelangsungan
hidupnya, baik secara peribadi maupun secara social. Manusia dilengkapi dengan
pengetahuan natural-spontan, dan kehendak yang cenderung melakukan hidup yang
sesuai dengan pengetahuan itu. Pengetahuan itu misalnya nampak pada persepsi
yang disertai emosi-emosi spontan, seperti ketakutan, kemarahan, rasa gembira.
Dan segi praktis lalu muncul sebagai keinginan untuk melarikan diri, atau
cenderung untuk langsung memukul orang yang mengancam.
Namun
nalurinya tidak seutuhnya didukung oelh kemampuan fisik yang tepat sebagaimana
pada binatang, dan oleh karena itu tidak pernah ada manusia yang ‘siap jalan’
dalam hubungan dengan alam yang ‘siap pakai’. Namus meskipun keadaan fisik dan
biotiknya tidak mencukupi untuk hidup dengan nalurinya semata-mata. Tetapi
manusia memiliki kekuatan nonfisik yang secara terpadu mampu membangun alam
sesuai kebutuhannya.
3.
Pengetahuan rasional
Macam
pengetahuan lebih tinggi lagi dank has untuk manusia saja, ialah pengetahuan
rasional pengetahuan itu dicirikan oleh kesadaran akan sebab musabab suatu
keputusan. Ia tak terbatas oelh kepekaan indera tertentu, dan tidak tertuju
pada objek tertentu, pengetahuan rasional itu memiliki tiga tingkatan.
a. Pengetahuan
biasa
Saetiap orang
memiliki pengetahuan biasa, yakni pengetahuan tanpa usaha khusus. Pengetahuan
ini bersifat intuitif-spontan dan tidak seberapa memakai penalaran formal.
Pengetahuan itu diperoleh melalui pergaulan normal dengan orang lain dan alam
disekitarnya, dan meiliki banyak tingkat; pengertian tentang barang benda
biasa, pengertian tanaman dan ternak, dan pengatahuan akan manusia. Mislanya
setiap orang dewasa secara spontan mengetahui tentang penyebaban pada peristiwa
alamiah, tentang hubungan social, dan tentang pendidikan anak. Diantara
pendidikan-pendidikan itu dan tercampur dengannya termuat pengetahuan tentang
hal-hal terakhir , seperti hakekat manusia, makna hidup manusia, kematian dan
sang pencipta.
b. Pengetahuan
alamiah
Pengetahuan
alamiah ialah pengetahuan yang teroganisasi, yaitu dengn system dan berusaha
mencari hubungan-hubungan tetap diantaranya gejala-gejala. Pengetahuan ilmiah
empiris mengumpulkan gejala-gejala tersebutr dan tetap tinggal dalam garis
kawasan horizontal.
Tetapi masih ada pengetahuan ilmiah
yang serba lain sifatnya yaitu mengetahuan filosofis. Dengan memakai pula
system dan metode, filsafat pemikiran penjelasan terakhir dari gejala-gejala,
dan berusaha mempelajari asumsi-asumsi paling dasariah didalamnya, khususnya
berusaha memerincikan pengetahuan tentang hal-hal terakhir seperti sudah hidup
didalam pengetahuan biasa: hidup dan mati manusia, kebaikan tuhan, pengetahuan
ini merupakan lanjutan dari dan refleksi atas objek pengetahuan biasa dan
pengetahuan ilmiah empiris.
4.
Pengetahuan intuitif dan imajinatif
Dalam
manusia ada pengetahuan yang lain lagi, yang begitu khusus, sehinbgga
seakan-akan merupakan suatu macam tersendiri, yaitu pengetahuan intuitif,
sebenarnya pengetahuan itu tetap termuat dalam rasionalitas pada umumnya, tetapi agak dilawankan dengan pengetahuan
rasional sejauh itu justru menekannkan sistematikan dan kekuatan metodis. Kedua
macam pengertian itu menurut dasar biotiknya secara global tetapi tidak
eksklusif dialokasikan dalam dedua belah otak manusia. Lalu sebelah kiri otak
manusia terutama menjadi sumber bagi
kemampuan berbahasa, bagi pemahaman perasaan orang lain, bagi kreativitas
spontan, bagi fantasi, dan bagi feeling. Bagi perhitungan matematis, bagi
logika lurus, bagi lazimnya disebut sebagai kegiatan rasional. Namun pembagian
tugas itu tidak ekslusif, sebab selalu juga sebelah lainnya ikut aktif.
Pengetahuan imajinatif atau intuitif ini dapat dimanifestasikan dalam empat
fungsi.
a. Kemampuan
fantasi bebas
Pengetahuan
imajinatif atau intuitif itu merupakan kegiatan mental yang menghasilkan
kembali dan menciptakan gambaran-gambaran tanpa danya objek real yang sesuai
dengannya. Gam,baran itu dapat dipadukan tanpa arah dan kombinasi yang tak
terduga.
b. Kemampuan
imajinasi estetis
Unsur-unsur yang
terbentuk oleh permainan fantasi yang disengajamembentuk kombinasi yang
harmonis, dan mengungkapkan situasi batin penciptanya dalam bentuk baru, dan
mampu menggerakkan pengalaman yang sama pada orang lain. Contoh, kita dapat
menangis, terharu apabila kita mendengarkan lagu atau music yang dimainkan;
cerita novel dapat menggetarkan hati pembacnya.
c. Kemampuan
fantasi dalam fungsi praktis
Fungsi fantasi
dapat menjelaskan dan menyempurnakan penalaran. Pemikiran masal;ah-masalah
konkrit seringkali tidak dilaksanakan orang semata-mata dengan perhitungan
lurus dan matematis, tetapi juga dengan
fantasi, misalnya seorang dosen bisa menemukan ilistrasi bahan kuliah
dengan mengimajinasikan contoh-contoh dan perbandingan-perbandingan.
d. Kekampuan
imajinasi dalam penemuan ilmiah
Imajinasi ikut
membentuk bangunan intelektual ilmu pengetahuan dan filsafat, imajinasi itu
dapat tiba-tiba membuka pemahaman, tanta ada metodik terarah.
No comments:
Post a Comment