OBJEK DAKWAH
(Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Makalah
Matakuliah Praktek Dakwah)
OLEH:
Kelompok VI
Yusup Mokoagow
IAIN SULTAN AMAI
GORONTALO
FAKULTAS USHULUDDIN
DAN DAKWAH
JURUSAN AQIDAH &
FILSAFAT ISLAM
TAHUN AKADEMIK
2016-2017
A.
LATAR
BELAKANG
Ilmu
memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat
memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun
dengan tertib, akan kebenaran.
Bagi
manusia, berfilsafat itu berarti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya,
senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab
terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun
kebenaran. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk
menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan
penggolongan-penggolongan berdasarkan, ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi
kepada cita mulia kemanusiaan.
Dalam
mempelajari Filsafat banyak sekali Manfaat yang bisa kita ambil dan kita petik
guna untuk menjalani hidup yang sebaik-baiknya. diantaranya Fiillsafat membantu
kita unntuk berfikir lebih Kritis dalam hal apapun. Didalam Filsafat dakwah
juga banyak sekali hal-hal yang dikaji dan dipelajari secara kritis dan
mendalam. Sebagai mana ilmu lain filsafat juga memiliki berbagai macam
cabang-cabangya. Mempelajari filsafat adalah salah satu hal yang menarik dan
banyak diminati oleh orang-orang, terutama mereka yang ingin mecari kebenaran.
Oleh karna itu penulis menyusun makalah ini guna untuk mengenal dan mempelajari
filsafat, objek kajian serta manfaat mempelajari filsafat Dakwah.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Apa
Objek Dakwah itu?
2.
Apa saja Objek kajian Filsafat Dakwah?
3.
Manfaat mempelajari Filsafat Dakwah?
C.
PENGERTIAN
OBJEK DAKWAH
Objek
dakwah adalah orang-orang yang dijadikan sasaran untuk menerima dakwah yang
sedang dilakukan oleh da’i. Keberadaan objek dakwah yang sering kita kenal
dengan mad’u, yang sangat heterogen baik ideologi, pendidikan, status sosial,
sosial,, kesehatan dan sebagainya. Abdul Munir Mulkhan membedakan objek daakwah
menjadi dua kategori. Pertama, umat dakwah yaitu masyarakat luas yang
belum memeluk agama islam (non muslim). Kedua, umatijabah yaitu
mereka yang telah memeluk agama islam,dimana dalam praktiknya umat ijabah ini
terbagi menjadi dua objek yaitu objek umum yang merupakan masyarakat mayoritas,
awam dengan tingkat heterogenitas tinggi, dan objek khusus karena status yang
membentuk kelompok-kelompok tertentu, seperti kelompok mahasiswa, ibu-ibu,
pedagang, petani dan lain sebagainya (Mulkhan, 1996:208-209).
Dalam
proses dan pelaksanaan dakwah, madd’u dapat bersifat individu ataupun
kolektif. Individu karena memasang tujuan dakwah adalah mengajak dan mendorong
manusia untuk mengamalkan ajaran agama islam dalam kehidupan sehari-hari agar
mempeoleh kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Bersifat
kolektif karena dakwah juga bertujuan untuk membentuk tatanan
kehidupan masyarakat yang bersendikan islam. Masyarakat islam tidak hanya
terbentuk manakala tidak didukung oleh anggota yang tidak islami, demikian pula
sebaliknya, individu yang islami tidaka akan terbentuk didalam masyarakat yang
tidak menghargai Islam (Aris Saefullah, 2003: 48).[1]
D.
OBJEK
KAJIAN MATERIAL
Menurut
Drs. Suisyanto, Objek material filsafat dakwah adalah segala sesuatu yang ada
dan mungkin ada yang berkaitan dengan dakwah, baik yang berkaitan dengan ajaran
dakwah maupun perbuatan manusia yang berhubungan dengan dakwah.
Menurut
Andy Dermawan dkk, objek material filsafat dakwah adalah manusia, Islam, Allah
dan lingkungan dunia. Dengan filsafat dakwah dijelaskan proses interaktif
manusia yang menjadi subjek (da’i) dan objek (mad’u) dalam proses dakwah, Islam
sebagai pesan dakwah di lingkungan dunia di mana manusia akan mengamalkan dan
menerapkan ajaran dan nilai keislaman serta Allah yang menurunkan Islam dan
memberikan takdirnya yang menyebabkan terjadinya perubahan tindakan, keyakinan
dan sikap.[2]
Menurut
Dr. H. Nur Syam, objek material filsafat adalah segala sesuatu yang ada atau
mungkin ada, maka objek formalnya adalah pemikiran atau keterangan
sedalam-dalamnya tentang objek material tersebut. Objek material filsafat dapat
dibagi menjadi tiga bagian yaitu Hakikat Tuhan, hakikat manusia dan hakikat
alam semesta.
E.
OBJEK
KAJIAN FORMAL
Menurut
Drs. Suisyanto objek formal filsafat dakwah adalah usaha untuk mendapatkan
pemahaman yang sedalam-dalamnya sesuai dengan akal budi manusia tentang segala
sesuatu yang berkaitan dengan penyampaian ajaran Islam kepada umat Islam dengan
cara mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya baik secara praktis maupun
teoritis.[3]
Menurut
Andy Dermawan dkk, objek Formal filsafat dakwah adalah mempelajari bagaimana
hakikat dakwah.Menurut Dr. H. Nur Syam, objek Formal filsafat adalah pemikiran
secara radikal akan objek material tersebut.
Objek
kajian dakwah adalah hubungan interaksional antara subjek dakwah dengan objek
dakwah dengan menggunakan metode, materi, dan media dakwah tertentu untuk
mencapai tujuan dakwah. Sehingga secara proposional dapat dinyatakan dalam
proposisi, sebagai berikut:
1. Subjek
dakwah tertentu berhubungan dengan religiositas objek dakwah.
2. Media
dakwah tertentu berhubungan dengan religiositas objek dakwah.
3. Metode
dakwah tertetnu berhubungan dengan religiositas objek dakwah.
4. Materi
dakwah tertentu berhubungan dengan religiositas objek dakwah.
Objek
kajian dakwah adalah setiap bentuk dari proses merealisasikan ajaran Islam pada
kehidupan manusia melalui strategi, metode, dan sistem yang relevan dengan
mempertimbangkan aspek religio-politik-kultural-sosio dan psikologis umat manusia.
Setelah
mendalami masalah objek kajian filsafat dan objek kajian dakwah, sekarang kita
dapat mengintegrasikan antara keduanya yaitu objek kajian filsafat dakwah.
Objek studi filsafat dakwah adalah pemikiran mendalam dan radikal, logis dan
sistematis tentang proses usaha merealisasikan ajaran Islam dalam kehidupan
umat manusia dengan melalui strategi, metode, dan sistem yang relevan dengan
mempertimbangkan dimensi religio-politik-kultural-sosio-psikologis umat
manusia.[4]
F.
MANFAAT
FILSAFAT DAKWAH
Manfaat
filsafat dakwah adalah berguna untuk menentukan para da’I agar mampu memahami
ajaran islam secara radikal, sampai keakar-akarnya sehingga menemukan kebenaran
yang hakiki. Para da’I mampu menjelaskan bahwa islam universal, tidak
bertentangan logika dan akal sehat. Dengan demikian ajaran islam disampaikan
tidak hanya diterima secara dokmatis dan absolut semata, tetapi juga melalui
kerangka fikiran yang rasional yang mampu memberikan arti penting dalam
menyadari otoritas diri sebagi makhluk yang berdimensi dalam memahami diri dan
hak miliknya.
Tujuan
filsafat dakwah adalah memberikan pemahaman yang bersifat universal tentang
suatu ajaran islam secara mendalam, mendasar dan radikal sampai keakar-akarnya,
sehingga akhirnya dapat membawa pada kebenaran yang hakiki, kebenaran hakiki
tersebut terimplementasikan dalam sikap keseharian sebagai orang islam. Dengan
demikian filsafat dakwah juga memberikan kontribusi keilmuan dengan mempertajam
metodologi dan pendekatan sehingga para da’I mampu melihat realitas umat secara
tajam dan santun.[5]
G.
KESIMPULAN
Objek
dakwah adalah orang-orang yang dijadikan sasaran untuk menerima dakwah yang
sedang dilakukan oleh da’i. Keberadaan objek dakwah yang sering kita kenal
dengan mad’u, yang sangat heterogen baik ideologi, pendidikan, status sosial,
sosial,, kesehatan dan sebagainya
Secara
ringkas ruang lingkup filsafat dakwah paling tidak meliputi empat hal yang
selalu punya kaitan erat. Yaitu:
a. Manusia
sebagai pelaku (subyek) dakwah dan manusia sebagai penerima (obyek) dakwah.
b. Agama
Islam sebagai pesan atau materi yang harus disampaikan, diimani serta
diwujudkan dalam realitas (diamalkan) di masyarakat.
c. Allah
yang menciptakan manusia dan alam, sebagai Rab yang memelihara alam dan
menurunkan agama Islam serta menentukan terjadinya proses dakwah.
d. Lingkungan,
yaitu alam (bumi dan sekitarnya) tempat terjadinya proses dakwah.
Manfaat
filsafat dakwah adalah berguna untuk menentukan para da’I agar mampu memahami
ajaran islam secara radikal, sampai keakar-akarnya sehingga menemukan kebenaran
yang hakiki. Para da’I mampu menjelaskan bahwa islam universal, tidak
bertentangan logika dan akal sehat.
H.
DAFTAR
PUSTAKA
Suriasumantri Yuyun, Ilmu
Dalam Perspektif, (Jakartra: Yayasan Obor Indonesia dan
Leknas LIPI, 1982)
Mustafa Ahmad,
1997: Filsafat Islam, Pustaka Setia, Bandung.
A.
Heri Hermawan, M Ag, Yaya Sunarya, M,pd. 2011: Filsafat Islam, Insan
Mandiri, Bandung.
A.
Munir Mulkham, Ideologisasi Gerakan Dakwah, (Yogyakarta: SIPRESS,
1996)
Siti
Uswatun Khasanah, Berdakwah Dengan Jalan Debat, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar Offset, 2007)
[1] Yuyun
Suriasumantri, Ilmu Dalam Perspektif, (Jakartra: Yayasan Obor Indonesia dan
Leknas LIPI, 1982) hal 15
[2] Mustafa,
Filsafat Islam, Pustaka Setia, Bandung, 1997. Hal: 23
[3] Heri
Hermawan, Yaya Sunarya, Filsafat Islam, Insan Mandiri, Bandung, 2011. Hal: 17
[4] A.
Munir Mulkham, Ideologisasi Gerakan Dakwah, (Yogyakarta: SIPRESS, 1996), Hal: 47
[5] Siti
Uswatun Khasanah, Berdakwah Dengan Jalan Debat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Offset, 2007), Hal: 37.

No comments:
Post a Comment